Berapa Lama Bisul Bisa Kempes? Kenali Tanda Bisul Mulai Sembuh
Bisul umumnya membaik dalam 1–3 minggu. Kenali tanda sembuh, perawatan aman, dan kapan perlu ke dokter.
Bisul bukan hanya karena kurang bersih. Kenali bakteri penyebab, faktor risiko, dan cara mencegahnya.
Apa penyebab kita terkena bisul? Penyebab paling umum adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel rambut atau jaringan kulit di sekitarnya. Bakteri ini sebenarnya bisa hidup di kulit atau hidung tanpa menimbulkan masalah, tetapi dapat menyebabkan infeksi ketika masuk melalui luka kecil, goresan, atau kulit yang mengalami iritasi.
Jadi, bisul tidak selalu berarti seseorang kurang menjaga kebersihan. Bahkan orang yang rajin mandi tetap bisa mengalami bisul. Risiko bisa meningkat karena gesekan kulit, mencukur, keringat berlebih, berbagi barang pribadi, kontak dengan penderita infeksi kulit, hingga kondisi seperti diabetes atau gangguan daya tahan tubuh.
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Kulit dengan Perawatan yang Benar Tiap Hari

Bisul paling sering terjadi ketika bakteri Staphylococcus aureus masuk ke dalam folikel rambut dan menyebabkan infeksi. Tubuh kemudian mengirim sel darah putih untuk melawan bakteri. Campuran sel darah putih, jaringan yang rusak, dan bakteri inilah yang kemudian membentuk nanah.
Secara medis, bisul disebut furunkel atau furuncle. Bentuknya biasanya berupa benjolan merah yang terasa nyeri, hangat, lalu perlahan membesar dan berisi nanah.
Jika beberapa bisul muncul berdekatan dan menyatu menjadi infeksi yang lebih besar, kondisi ini disebut karbunkel atau carbuncle.
Staphylococcus aureus merupakan bakteri utama yang menyebabkan bisul. Sekitar 30% orang membawa bakteri ini di hidung tanpa mengalami infeksi. Masalah biasanya baru terjadi ketika bakteri mendapat kesempatan masuk ke jaringan kulit. (CDC, 2024).
Tidak selalu.
Menjaga kebersihan memang penting karena dapat membantu mengurangi jumlah bakteri di kulit sekaligus mencegah penyebaran infeksi. Namun, menganggap semua bisul muncul karena seseorang jarang mandi atau tubuhnya kotor kurang tepat.
Bisul bisa muncul pada siapa saja.
Orang dengan kebersihan tubuh yang baik pun dapat mengalaminya ketika terdapat luka kecil, iritasi akibat mencukur, gesekan pakaian, atau paparan bakteri dari orang lain.
Karena itu, kebersihan sebaiknya dipandang sebagai salah satu faktor pencegahan, bukan satu-satunya penyebab bisul.
Kulit sebenarnya memiliki lapisan pelindung yang membantu mencegah kuman masuk ke dalam tubuh.
Namun, perlindungan tersebut bisa terganggu ketika kulit mengalami luka kecil. Luka ini terkadang sangat kecil sehingga tidak terlihat.
Contohnya:
Saat bakteri masuk melalui celah tersebut dan mencapai folikel rambut, infeksi bisa mulai berkembang.
Awalnya mungkin hanya terlihat seperti benjolan merah kecil. Dalam beberapa hari, benjolan dapat membesar, semakin nyeri, dan bagian tengahnya mulai berisi nanah.
Saat membahas apa penyebab kita terkena bisul, bakteri Staphylococcus aureus merupakan penyebab yang paling utama.
Bakteri ini cukup umum ditemukan pada manusia dan biasanya tidak berbahaya selama hanya berada di permukaan kulit atau hidung.
Masalah muncul ketika bakteri masuk lebih dalam melalui luka.
Tubuh kemudian memberikan respons peradangan untuk melawan infeksi. Akibatnya, area tersebut menjadi merah, membengkak, terasa hangat, nyeri, dan akhirnya membentuk kantong nanah.
Beberapa jenis Staphylococcus aureus juga dapat mengalami resistensi terhadap antibiotik. Salah satunya dikenal sebagai MRSA atau methicillin-resistant Staphylococcus aureus.
Karena itu, bisul yang berat atau sering kambuh sebaiknya tidak sembarangan diobati dengan antibiotik tanpa pemeriksaan dokter.
Luka kecil merupakan salah satu jalan masuk bakteri.
Tidak harus luka besar atau berdarah. Lecet ringan akibat kuku, mencukur bulu, jerawat yang dipencet, atau kulit yang bergesekan dengan pakaian dapat membuka lapisan pelindung kulit.
Risiko bisa meningkat jika luka tersebut sering disentuh menggunakan tangan yang belum bersih.
Itulah sebabnya menjaga luka kecil tetap bersih dan tertutup sampai sembuh menjadi langkah sederhana yang cukup penting untuk mencegah infeksi kulit.
Bisul sering muncul pada area tubuh yang mudah berkeringat dan mengalami gesekan.
Misalnya:
Gesekan berulang dapat membuat kulit mengalami iritasi atau luka mikro. Kondisi yang panas dan lembap juga dapat mendukung pertumbuhan bakteri.
Karena itu, orang yang sering memakai pakaian sangat ketat atau beraktivitas hingga banyak berkeringat dapat mengalami iritasi kulit lebih mudah.
Namun, berkeringat sendiri bukan berarti langsung menyebabkan bisul. Infeksi bakteri tetap menjadi faktor utamanya.
Mencukur rambut juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu.
Pisau cukur dapat menyebabkan luka kecil yang tidak terlihat. Selain itu, rambut yang tumbuh ke dalam dapat membuat folikel mengalami peradangan.
Jika bakteri masuk ke area tersebut, infeksi dapat berkembang menjadi bisul.
Untuk mengurangi risikonya, gunakan alat cukur yang bersih, hindari berbagi alat cukur, dan jangan mencukur kulit yang sedang mengalami luka atau infeksi.
Bakteri penyebab bisul dapat berpindah melalui kontak kulit.
Risikonya lebih tinggi jika bersentuhan langsung dengan luka atau nanah dari bisul orang lain.
Karena itu, sebaiknya hindari menyentuh bisul milik orang lain dan selalu mencuci tangan setelah melakukan perawatan luka.
Infeksi Staphylococcus, termasuk MRSA, juga dapat menyebar melalui benda yang terkontaminasi. (CDC, 2025).
Barang pribadi tertentu dapat menjadi perantara perpindahan bakteri.
Contohnya:
Karena itu, sebaiknya hindari berbagi alat cukur dan handuk, terutama dengan seseorang yang sedang mengalami infeksi kulit.
CDC juga menyarankan menjaga luka tetap bersih dan tertutup serta tidak berbagi barang pribadi yang bersentuhan dengan kulit untuk mengurangi risiko penyebaran MRSA.
Kulit yang mengalami eksim atau masalah kulit kronis lainnya cenderung memiliki lapisan pelindung yang lebih mudah rusak.
Ketika kulit kering, pecah, atau sering digaruk, bakteri lebih mudah masuk.
Inilah sebabnya orang yang memiliki gangguan pada lapisan pelindung kulit dapat lebih rentan mengalami infeksi kulit, termasuk bisul.
Menjaga kondisi kulit tetap terkontrol dapat membantu menurunkan risiko terjadinya infeksi berulang.
Diabetes termasuk salah satu kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko bisul dan infeksi kulit berulang.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi sekaligus memperlambat proses penyembuhan luka.
Sebuah penelitian kohort di Inggris juga menemukan bahwa diabetes berkaitan dengan peningkatan risiko munculnya kembali bisul atau abses kulit. (British Journal of General Practice, 2015).
Jika bisul terus muncul berulang tanpa penyebab yang jelas, dokter mungkin mempertimbangkan pemeriksaan untuk mencari kondisi yang mendasarinya.
Sistem kekebalan tubuh bertugas mengenali dan melawan bakteri.
Ketika daya tahan tubuh melemah, tubuh mungkin menjadi lebih sulit mengendalikan infeksi kulit.
Risiko dapat meningkat pada orang yang memiliki kondisi atau menjalani pengobatan tertentu yang menekan sistem kekebalan tubuh.
Namun, bukan berarti setiap orang yang mengalami bisul memiliki masalah kekebalan tubuh. Sebagian besar bisul tunggal dapat terjadi pada orang yang sehat.
Obesitas juga dikaitkan dengan risiko infeksi kulit berulang yang lebih tinggi.
Lipatan kulit dapat menghasilkan lingkungan yang lebih lembap dan lebih sering mengalami gesekan. Kondisi ini membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi.
Review medis terbaru mengenai infeksi kulit berulang juga menempatkan obesitas dan diabetes sebagai beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko kekambuhan. (Current Opinion in Infectious Diseases, 2025).
Namun, faktor ini tidak berdiri sendiri. Kebersihan kulit, kondisi medis lain, luka, serta paparan bakteri juga dapat berperan.
Simak Juga: Berbagai Fakta dan Mitos Jerawat yang Perlu Dipahami
Bisul yang muncul satu kali biasanya tidak perlu langsung membuat khawatir.
Namun, jika bisul terus muncul berkali-kali, ada beberapa kemungkinan yang perlu dipertimbangkan.
Salah satunya adalah kolonisasi Staphylococcus aureus. Artinya, bakteri hidup pada kulit atau hidung tanpa selalu menimbulkan gejala, tetapi sewaktu-waktu dapat menyebabkan infeksi.
Faktor lain seperti diabetes, obesitas, masalah kulit, paparan bakteri di lingkungan rumah, atau kondisi yang memengaruhi kekebalan tubuh juga dapat meningkatkan risiko kekambuhan.
Pada bisul yang sering kambuh, dokter mungkin melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau mengambil sampel nanah untuk mengetahui jenis bakteri penyebabnya.
Pedoman Infectious Diseases Society of America menyarankan abses kulit yang berulang untuk dievaluasi dan, dalam kondisi tertentu, dilakukan kultur bakteri agar penyebabnya lebih jelas. (IDSA, 2014).
Bisulnya sendiri tidak berpindah dari satu orang ke orang lain, tetapi bakteri penyebabnya bisa menyebar.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan nanah atau luka yang terinfeksi.
Bakteri juga dapat berpindah melalui barang yang terkontaminasi seperti handuk dan alat cukur.
Karena itu, jika bisul pecah, tutup area tersebut menggunakan perban atau kasa bersih sampai luka sembuh.
Jangan berbagi barang pribadi selama masih terdapat luka terbuka.
Sebaiknya jangan.
Memencet atau menusuk bisul sendiri dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam atau menyebar ke jaringan kulit di sekitarnya.
Cara sederhana yang lebih aman untuk bisul kecil adalah menggunakan kompres hangat.
American Academy of Dermatology menyarankan kompres hangat sekitar 10–15 menit beberapa kali sehari untuk membantu bisul mengeluarkan nanah secara alami. Hindari menusuk atau memecahkannya sendiri.
Bisul kecil tanpa gejala berat sering kali dapat membaik dengan perawatan sederhana.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Gunakan kain bersih yang telah dibasahi air hangat.
Tempelkan selama sekitar 10–15 menit beberapa kali sehari. Suhu hangat dapat membantu meningkatkan aliran darah dan mendorong bisul mengeluarkan nanah secara alami.
Walaupun terlihat seperti jerawat besar, jangan mencoba menusuk atau memecahkan bisul sendiri.
Tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi menyebar.
Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh area di sekitar bisul.
Jika bisul pecah dengan sendirinya, bersihkan area tersebut dengan lembut kemudian tutup menggunakan kasa atau perban bersih.
Gunakan handuk, pakaian, dan alat cukur pribadi sampai infeksi sembuh.
Langkah ini membantu mengurangi kemungkinan bakteri berpindah ke orang lain.
Tidak semua bisul membutuhkan antibiotik.
Bisul kecil sering kali dapat mengeluarkan nanah dan sembuh dengan perawatan lokal seperti kompres hangat.
Sebaliknya, bisul besar atau kumpulan beberapa bisul mungkin membutuhkan tindakan dokter untuk mengeluarkan nanah atau insisi dan drainase.
Pedoman IDSA menyebutkan bahwa insisi dan drainase merupakan penanganan utama untuk abses dan furunkel besar. Antibiotik tambahan dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien, termasuk adanya tanda infeksi sistemik. (Clinical Infectious Diseases, 2014).
Karena itu, jangan menggunakan antibiotik sisa atau membeli antibiotik sendiri tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.
Bisul memang tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu menurunkan risikonya.
Jaga kulit tetap bersih, terutama setelah berkeringat banyak.
Segera bersihkan luka, lecet, atau goresan kecil lalu tutup jika diperlukan.
Hindari berbagi handuk, alat cukur, pakaian, dan barang pribadi yang bersentuhan dengan kulit.
Gunakan alat cukur yang bersih dan hindari mencukur terlalu kasar.
Ganti pakaian yang basah oleh keringat setelah olahraga.
Jika terdapat bisul, jangan memencet atau menggaruknya.
Selain itu, kondisi seperti diabetes atau penyakit kulit sebaiknya tetap dikontrol dengan baik karena dapat berpengaruh terhadap risiko infeksi kulit.
Bisul kecil biasanya dapat membaik sendiri. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya diperiksa tenaga medis.
Segera konsultasikan jika:
Bisul pada wajah perlu mendapatkan perhatian lebih karena infeksi di area tersebut dapat memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Dokter dapat menentukan apakah bisul cukup dirawat secara sederhana, perlu dikeluarkan nanahnya, atau membutuhkan pengobatan lain.
Jadi, apa penyebab kita terkena bisul? Penyebab utamanya adalah infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, yang masuk ke folikel rambut atau jaringan kulit.
Kurang menjaga kebersihan memang dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Luka kecil, mencukur, gesekan, keringat, berbagi barang pribadi, kontak dengan penderita infeksi kulit, diabetes, obesitas, masalah kulit, dan daya tahan tubuh yang lemah juga dapat meningkatkan risiko.
Bisul kecil biasanya dapat membaik dengan kompres hangat dan menjaga area tetap bersih. Hindari memencet bisul karena dapat membuat infeksi menyebar.
Jika bisul membesar, sangat nyeri, muncul berulang, disertai demam, atau terjadi pada orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes, sebaiknya periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Penyebab utama bisul adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel rambut. Bakteri dapat masuk melalui luka kecil, lecet, iritasi kulit, atau kulit yang mengalami kerusakan.
Tidak selalu. Kebersihan yang kurang dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri, tetapi orang dengan kebersihan tubuh yang baik juga dapat mengalami bisul karena luka kecil, gesekan, infeksi bakteri, atau faktor kesehatan tertentu.
Bakteri penyebab bisul dapat berpindah melalui kontak langsung dengan luka atau nanah serta melalui barang yang terkontaminasi seperti handuk dan alat cukur. Karena itu, sebaiknya tidak berbagi barang pribadi saat mengalami infeksi kulit.
Ketiak, paha, bokong, dan selangkangan merupakan area yang mudah berkeringat dan mengalami gesekan. Iritasi atau luka kecil di area tersebut dapat memudahkan bakteri masuk ke folikel rambut.
Bisul yang sering kambuh dapat berhubungan dengan kolonisasi bakteri Staphylococcus aureus, kondisi kulit tertentu, diabetes, obesitas, paparan bakteri berulang, atau gangguan daya tahan tubuh. Pemeriksaan dokter dapat membantu mencari penyebabnya.
Tidak disarankan. Memencet atau menusuk bisul dapat membuat bakteri menyebar ke jaringan di sekitarnya. Gunakan kompres hangat dan biarkan bisul mengeluarkan nanah secara alami atau mendapatkan tindakan dokter jika ukurannya besar.
Bisul kecil dapat membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu sampai tiga minggu. Jika tidak membaik setelah sekitar dua minggu, semakin membesar, atau terus muncul kembali, sebaiknya diperiksa ke dokter.
Untuk menjamin keaslian produk, Anda dapat membeli Produk Dami Sariwana melalui:
Belanja di toko resmi memberikan keamanan, keaslian produk, dan kemudahan dalam mendapatkan informasi maupun promo terbaru.
kesehatan Kulit
Bisul umumnya membaik dalam 1–3 minggu. Kenali tanda sembuh, perawatan aman, dan kapan perlu ke dokter.
kesehatan Kulit
Bisul jangan asal dipencet. Ketahui cara aman merawatnya agar cepat membaik dan infeksi tidak menyebar.
kesehatan Kulit
Bisul bukan hanya karena kurang bersih. Kenali bakteri penyebab, faktor risiko, dan cara mencegahnya.
kesehatan Kulit
Kenali fakta dan mitos jerawat agar perawatan kulit lebih tepat, aman, dan tidak mudah percaya informasi keliru.
kesehatan Kulit
Temukan cara aman merawat jerawat agar kulit lebih bersih, sehat, dan terawat setiap hari.